📖 Tafsir Surah Al-Fatihah (السورة الفاتحة)
Dalam Bahasa Indonesia – Penjelasan Sangat Panjang dan Lengkap
Pendahuluan
Surah Al-Fatihah adalah pembukaan Al-Qur’an dan termasuk surah yang paling agung di antara surah-surah lainnya. Surah ini juga disebut Ummul Kitab (Induk Kitab), Ummul Qur’an, Asy-Syifa’, Ar-Ruqyah, Sab’ul Matsani, dan Ash-Shalah. Disebut Sab’ul Matsani karena terdiri dari tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam setiap rakaat shalat.
Surah ini diturunkan di Makkah menurut pendapat yang paling kuat, dan ia mengandung dasar aqidah Islam, tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat, serta adab seorang hamba dalam berdoa dan berhubungan dengan Rabb-nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada surah dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an yang menyerupai Al-Fatihah.”
(HR. Tirmidzi)
Tafsir Ayat per Ayat
1. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Penjelasan:
-
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap pekerjaan yang baik hendaknya dimulai dengan nama Allah sebagai bentuk tawakkal, pengagungan dan permohonan pertolongan.
-
Ar-Rahman menunjukkan kasih sayang Allah yang maha luas kepada seluruh makhluk, baik muslim maupun non-muslim.
-
Ar-Rahim menunjukkan kasih sayang khusus Allah untuk hamba-hamba beriman di dunia dan akhirat.
-
Para ulama mengatakan: barang siapa memulai urusannya tanpa bismillah, maka urusan itu terputus dari keberkahan.
2. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
Tafsir:
-
Alhamd berarti pujian yang disertai kecintaan dan pengagungan.
-
Lillah menunjukkan bahwa semua bentuk pujian hanya milik Allah, karena Dialah pemilik segala nikmat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
-
Rabb artinya Pencipta, Pemilik, Pengatur, Penjaga, dan Penguasa.
-
Al-‘Alamin mencakup semua makhluk: manusia, jin, malaikat, hewan, tumbuhan, planet, langit, bumi, bahkan surga dan neraka.
-
Ayat ini menegaskan tauhid rububiyah.
3. الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Pengulangan dua sifat ini menunjukkan betapa kasih sayang Allah adalah fondasi hubungan hamba dengan Rabb-nya. Segala perintah dan larangan Allah bukan untuk menyiksa, tetapi untuk memberi rahmat dan hidayah.
4. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Penguasa Hari Pembalasan.”
Makna ayat:
-
Allah adalah Pemilik mutlak hari kiamat, hari dimana semua amalan akan diperhitungkan.
-
Pada hari itu tidak ada kekuasaan bagi raja, pemerintah, atau siapa pun selain Allah.
-
Ayat ini mengingatkan hamba agar selalu mempersiapkan diri untuk hari akhir dan tidak sombong di dunia.
5. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Tafsir:
-
Ayat ini adalah inti dari seluruh Al-Qur’an, mengandung tauhid uluhiyah.
-
Iyyaka na’budu berarti pengkhususan ibadah hanya kepada Allah, bukan kepada manusia, jin, kuburan, nabi, malaikat, atau berhala.
-
Iyyaka nasta’in berarti meminta pertolongan dalam segala urusan hanya kepada Allah, meskipun boleh meminta bantuan manusia dalam hal yang mampu.
-
Urutan ibadah sebelum permohonan menunjukkan bahwa tujuan utama hidup adalah beribadah, sedangkan pertolongan adalah sarana menuju ibadah yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)
6. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Makna:
-
Hidayah di sini mencakup hidayah ilmu (mengetahui kebenaran) dan hidayah taufik (mampu mengamalkan kebenaran).
-
Ash-shirath al-mustaqim adalah Islam, Al-Qur’an, jalan para nabi dan orang-orang saleh.
-
Setiap muslim membutuhkan hidayah setiap saat, karena hati berbolak-balik dan fitnah dunia sangat kuat.
7. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”
Yaitu jalan:
-
Para Nabi
-
Para Shiddiqin
-
Para Syuhada
-
Para orang Shalih
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”
Penjelasan:
-
Al-maghdhub ‘alaihim = orang-orang yang tahu kebenaran tetapi tidak mengamalkannya (contoh: Yahudi menurut tafsir klasik).
-
Adh-dhallin = orang-orang yang beribadah tanpa ilmu dan tersesat dalam kesyirikan dan bid’ah (contoh: Nasrani menurut tafsir klasik).
-
Ayat ini mengajarkan bahaya meninggalkan ilmu dan amal.
Kesimpulan Besar Surah Al-Fatihah
Surah Al-Fatihah mengandung:
| Tema | Penjelasan |
|---|---|
| Tauhid | Rububiyah, Uluhiyah, Asma’ wa Sifat |
| Aqidah | Iman kepada hari akhir, takdir, doa |
| Adab | Memuji Allah sebelum berdoa |
| Ibadah | Mengikhlaskan ibadah dan isti’anah |
| Ruqyah | Penyembuh spiritual dan fisik |
| Hikmah | Hidayah adalah nikmat terbesar |
Keutamaan Surah Al-Fatihah
-
Dapat mengusir syaitan
-
Penyembuhan ruqyah syar’iyyah
-
Wajib dibaca dalam setiap rakaat shalat
-
Doa terbaik untuk hidayah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.”
(HR. Bukhari & Muslim)
